A.
Komunikasi
Verbal
Komunikasi
verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan maupun
tulisan. Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. Melalui
kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, atau
maksud mereka, menyampaikan fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya,
saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat, dan bertengkar. Dalam
komunikasi verbal itu bahasa memegang peranan penting.
Ada
beberapa unsur penting dalam komunikasi verbal, yaitu:
1.
Bahasa
Pada
dasarnya bahasa adalah suatu system lambang yang memungkinkan orang berbagi
makna. Dalam komunikasi verbal, lambang bahasa yang dipergunakan adalah bahasa
verbal entah lisan, tertulis pada kertas, ataupun elektronik. Bahasa suatu
bangsa atau suku berasal dari interaksi dan hubungan antara warganya satu sama
lain.
Bahasa
memiliki banyak fungsi, namun sekurang-kurangnya ada tiga fungsi yang erat
hubungannya dalam menciptakan komunikasi yang efektif. Ketiga fungsi itu
adalah:
a.
Untuk
mempelajari tentang dunia sekeliling kita;
b.
Untuk
membina hubungan yang baik di antara sesama manusia
c.
Untuk
menciptaakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia.
Bagaimana
mempelajari bahasa? Menurut para ahli, ada tiga teori yang membicarakan
sehingga orang bisa memiliki kemampuan berbahasa.
Teori
pertama disebut Operant Conditioning yang dikembangkan oleh seorang ahli
psikologi behavioristik yang bernama B. F. Skinner (1957). Teori ini menekankan
unsur rangsangan (stimulus) dan tanggapan (response) atau lebih dikenal dengan
istilah S-R. teori ini menyatakan bahwa jika satu organism dirangsang oleh
stimuli dari luar, orang cenderung akan member reaksi. Anak-anak mengetahui
bahasa karena ia diajar oleh orang tuanya atau meniru apa yang diucapkan oleh
orang lain.
Teori
kedua ialah teori kognitif yang dikembangkan oleh Noam Chomsky. Menurutnya
kemampuan berbahasa yang ada pada manusia adalah pembawaan biologis yang dibawa
dari lahir.
Teori
ketiga disebut Mediating theory atau teori penengah. Dikembangkan oleh
Charles Osgood. Teori ini menekankan bahwa manusia dalam mengembangkan
kemampuannya berbahasa, tidak saja bereaksi terhadap rangsangan (stimuli) yang
diterima dari luar, tetapi juga dipengaruhi oleh proses internal yang terjadi
dalam dirinya.
2.
Kata
Kata
merupakan unti lambang terkecil dalam bahasa. Kata adalah lambing yang
melambangkan atau mewakili sesuatu hal, entah orang, barang, kejadian, atau
keadaan. Jadi, kata itu bukan orang, barang, kejadian, atau keadaan sendiri.
Makna kata tidak ada pada pikiran orang. Tidak ada hubungan langsung antara
kata dan hal. Yang berhubungan langsung hanyalah kata dan pikiran orang.
B.
Komunikasi
Nonverbal
Komunikasi
nonverbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk nonverbal, tanpa
kata-kata. Dalam hidup nyata komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai
daripada komuniasi verbal. Dalam berkomunikasi hampir secara otomatis
komunikasi nonverbal ikut terpakai. Karena itu, komunikasi nonverbal bersifat
tetap dan selalu ada. Komunikasi nonverbal lebih jujur mengungkapkan hal yang
mau diungkapkan karena spontan.
Nonverbal
communication is all aspects of communication other than words themselves. It
includes how we utter words (inflection, volume), features, of environments
that affect interaction (temperature, lighting), and objects that influence
personal images and interaction patterns (dress, jewelry, furniture)
(Komunikasi nonverbal adalah semua aspek komunikasi selain
kata-kata sendiri. Ini mencakup bagaimana kita
mengucapkan kata-kata (infleksi, volume), fitur, lingkungan yang mempengaruhi
interaksi (suhu, pencahayaan), dan benda-benda yang mempengaruhi citra pribadi
dan pola interaksi (pakaian, perhiasan, mebel).
Komunikasi
non verbal dapat berupa bahasa tubuh, tanda (sign), tindakan/perbuatan (action)
atau objek (object).
Bahasa
Tubuh. Bahasa
tubuh yang berupa raut wajah, gerak kepala, gerak tangan,, gerak-gerik tubuh
mengungkapkan berbagai perasaan, isi hati, isi pikiran, kehendak, dan sikap
orang.
Tanda. Dalam
komunikasi nonverbal tanda mengganti kata-kata, misalnya, bendera, rambu-rambu
lalu lintas darat, laut, udara; aba-aba dalam olahraga.
Tindakan/perbuatan. Ini
sebenarnya tidak khusus dimaksudkan mengganti kata-kata, tetapi dapat
menghantarkan makna. Misalnya, menggebrak meja dalam pembicaraan, menutup pintu
keras-keras pada waktu meninggalkan rumah, menekan gas mobil kuat-kuat. Semua
itu mengandung makna tersendiri.
Objek. Objek
sebagai bentuk komunikasi nonverbal juga tidak mengganti kata, tetapi dapat
menyampaikan arti tertentu. Misalnya, pakaian, aksesori dandan, rumah, perabot
rumah, harta benda, kendaraan, hadiah.
Hal
menarik dari komunikasi nonverbal ialah studi Albert Mahrabian (1971) yang
menyimpulkan bahwa tingkat kepercayaan dari pembicaraan orang hanya 7% berasal
dari bahasa verbal, 38% dari vocal suara, dan 55% dari ekspresi muka. Ia juga
menambahkan bahwa jika terjadi pertentangan antara apa yang diucapkan seseorang
dengan perbuatannya, orang lain cenderung mempercayai hal-hal yang bersifat
nonverbal.
Oleh
sebab itu, Mark knapp (1978) menyebut bahwa penggunaan kode nonverbal dalam
berkomunikasi memiliki fungsi untuk:
1. Meyakinkan
apa yang diucapkannya (repetition)
2. Menunjukkan
perasaan dan emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata (substitution)
3. Menunjukkan
jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity)
4. Menambah
atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan belum sempurna.
C.
Perbedaan
Antara Komunikasi Verbal dan Nonverbal
There
are differences between the two systems of communication.
First,
nonverbal communication is perceived as more honest. If verbal and nonverbal
behaviors are inconsistent, most people trust the nonverbal behavior. There is
little evidence that nonverbal behavior actually is more trustworthy than
verbal communication; after all, we often control it quite consciously.
Nonetheless, it is perceived as more trustworthy. (Anderson, 1999) (ada
perbedaan antara kedua sistem komunikasi. Pertama, komunikasi nonverbal yang
dianggap lebih jujur. Jika perilaku verbal dan nonverbal yang tidak
konsisten, kebanyakan orang percaya perilaku nonverbal. Ada sedikit bukti bahwa
perilaku nonverbal sebenarnya lebih dapat dipercaya daripada komunikasi verbal,
setelah semua, kita sering mengontrolnya cukup sadar. Meskipun demikian, hal
itu dianggap lebih dapat dipercaya. (Anderson, 1999)
Second,
unlike verbal communication, nonverbal communication is multi channeled. verbal
communication usually occurs within a single channel; oral verbal communication
is received through hearing, and written verbal communication may be seen,
felt, heard, smelled, and tasted. We often receive nonverbal communication
simultaneously through two or more channels, as when we feel and see a hug
while hearing a whispered "I love you" (Kedua,
tidak seperti komunikasi verbal, komunikasi nonverbal adalah multi disalurkan.
komunikasi verbal biasanya terjadi dalam satu saluran, komunikasi verbal lisan
yang diterima melalui pendengaran, dan komunikasi verbal tertulis dapat
dilihat, dirasakan, didengar, berbau, dan mencicipi. Kami sering menerima
komunikasi nonverbal secara bersamaan melalui dua atau lebih saluran, seperti
ketika kita merasa dan melihat pelukan sambil mendengar berbisik "I love
you").
Finally,
verbal communication is discrete, whereas nonverbal communication continuous.
Verbal symbols start and stop; we begin speaking at one moment and stop
speaking at another moment. In contrast, nonverbal communication tends to flow
continually. Before we speak, our facial expressions and posture express our
feelings; as we speak, our body movements and appearance communicate; and after
we speak our posture changes, perhaps relaxing.
(Akhirnya, komunikasi verbal adalah diskrit, sedangkan komunikasi nonverbal
terus menerus. Simbol verbal mulai dan berhenti, kami mulai berbicara pada satu
saat dan berhenti berbicara saat yang lain. Sebaliknya, komunikasi nonverbal
cenderung mengalir terus. Sebelum kita berbicara, ekspresi wajah dan postur
mengungkapkan perasaan kita, saat kita bicara, gerakan tubuh kita dan
mengkomunikasikan penampilan, dan setelah kita berbicara postur tubuh berubah,
mungkin santai)
Secara sekilas telah diuraikan pada bagian awal tulisan
ini, bahwa antara komunikasi verbal dan nonverbal merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan, dalam arti. kedua bahasa tersebut bekerja bersama-sama
untuk menciptakan suatu makna. Namun, keduanya juga memiliki
perbedaan-perbedaan. Dalam pemikiran Don Stacks dan kawan-kawan, ada tiga
perbedaan utama di antara keduanya yaitu kesengajaan pesan (the intentionality
of the message), tingkat simbolisme dalam tindakan atau pesan (the degree of
symbolism in the act or message), dan pemrosesan mekanisme (processing
mechanism). Kita mencoba untuk menguraikannya satu per satu.
a.
Kesengajaan
(intentinolity)
Satu perbedaan
utama antara komunikasi verbal dan nonverbal adalah persepsi mengenai niat
(intent). Pada umumnya niat ini menjadi lebih penting ketika kita membicarakan
lambang atau kode verbal. Michael Burgoon dan Michael Ruffner menegaskan bahwa
sebuah pesan verbal adalah komunikasi kalau pesan tersebut
1) dikirimkan oleh sumber dengan sengaja dan
2) diterima oleh penerima secara sengaja pula.
Komunikasi nonverbal tidak banyak dibatasi oleh niat.
atau intent tersebut. Persepsi sederhana mengenai niat ini oleh seorang
penerima sudah cukup dipertimbangkan menjadi komunikasi nonverbal. Sebab,
komunikasi nonverbal cenderung kurang dilakukan dengan sengaja dan kurang halus
apabila dibandingkan dengan komunikasi verbal. Selain itu, komunikasi nonverbal
mengarah pada norma-norma yang berlaku, sementara niat atau intent tidak
terdefinisikan dengan jelas. Misalnya, norma-norma untuk penampilan fisik. Kita
semua berpakaian, namun berapa Bering kita dengan sengaja berpakaian untuk
sebuah situasi tertentu? Berapa kali seorang teman memberi komentar terhadap
penampilan kita? Persepsi receiver mengenai niat ini sudah cukup untuk memenuhi
persyaratan guna mendefinisikan komunikasi nonverbal.
b.
Perbedaan
perbedaan simbolik (symbolic differences)
Kadang-kadang
niat atau intent ini dapat dipahami karena beberapa dampak simbolik dari
komunikasi kita. Misalnya, memakai pakaian dengan warna atau model tertentu,
mungkin akan dipahami sebagai suatu `pesan' oleh orang lain (misalnya
berpakaian dengan warna hitam akan diberi makna sebagai ungkapan ikut berduka
cita).
Komunikasi
verbal dengan sifat-sifatnya merupakan sebuah bentuk komunikasi yang diantarai
(mediated form of communication). Dalam arti kita mencoba mengambil kesimpulan
terhadap makna apa yang diterapkan pada suatu pilihan kata. Kata-kata yang kita
gunakan adalah abstraksi yang telah disepakati maknanya, sehingga komunikasi
verbal bersifat intensional dan harus 'dibagi' (shared) di antara orang-orang
yang terlibat dalam tindak komunikasi. Sebaliknya, komunikasi nonverbal lebih
alami, isi beroperasi sebagai norma dan perilaku yang didasarkan pada norma.
Mehrabian menjelaskan bahwa komunikasi verbal dipandang lebih eksplisit
dibanding bahasa nonverbal yang bersifat implisit. Artinya, isyarat-isyarat
verbal dapat didefinisikan melalui sebuah kamus yang eksplisit dan lewat
aturan-aturan sintaksis (kalimat), namun hanya ada penjelasan yang samar-samar
dan informal mengenai signifikansi beragam perilaku nonverbal.
Mengakhiri
bahasan mengenai perbedaan simbolik ini, kita mencoba untuk melihat
ketidaksamaan antara tanda (sign) dengan lambang (simbol). Tanda adalah sebuah
representasi alami dari suatu kejadian atau tindakan. la adalah apa yang kita
lihat atau rasakan. Sedangkan lambang merupakan sesuatu yang ditempatkan pada
sesuatu yang lain. Lambang merepresentasikan tanda melalui abstraksi. Contoh,
tanda dari sebuah kursi adalah kursi itu sendiri, sedangkan lambang adalah
bagaimana kita menjelaskan kursi tersebut melalui abstraksi. Dengan perkataan
lain, apa yang secara fisik menarik bagi kita adalah tanda (sign) dan bagaimana
menciptakan perbedaan yang berubah-ubah untuk menunjukkan derajat ketertarikan
tersebut adalah lambang (simbol). Komunikasi verbal lebih spesifik dari bahasa
nonverbal, dalam arti is dapat dipakai untuk membedakan hal-hal yang sama dalam
sebuah cara yang berubah-ubah, sedangkan bahasa nonverbal lebih mengarah pada
reaksi-reaksi alami seperti perasaan atau emosi.
c.
Mekanisme
pemrosesan (processing mechanism)
Perbedaan
ketiga antara komunikasi verbal dan nonverbal berkaitan dengan bagaimana kita
memproses informasi. Semua informasi termasuk komunikasi diproses melalui otak,
kemudian otak kita menafsirkan informasi ini lewat pikiran yang berfungsi
mengendalikan perilaku-perilaku fisiologis (refleks) dan sosiologis (perilaku
yang dipelajari dan perilaku sosial).
Satu perbedaan
utama dalam pemrosesan adalah dalam tipe informasi pada setiap belahan otak.
Secara tipikal, belahan otak sebelah kiri adalah tipe informasi yang lebih
tidak berkesinambungan dan berubah-ubah, sementara belahan otak sebelah kanan,
tipe informasinya Iebih berkesinambungan dan alami (pada uraian di bawah,
Malandro dan Barker juga menjelaskan mengenai hal ini).
Berdasarkan
pada perbedaan tersebut, pesan-pesan verbal dan nonverbal berbeda dalam konteks
struktur pesannya. Komunikasi nonverbal kurang terstruktur. Aturan-aturan yang
ada ketika kita berkomunikasi secara nonverbal adalah lebih sederhana dibanding
komunikasi verbal yang mempersyaratkan aturan-aturan tata bahasa dan sintaksis.
Komunikasi nonverbal secara tipikal diekspresikan pada saat tindak komunikasi
berlangsung. Tidak seperti komunikasi verbal, bahasa nonverbal tidak bisa
mengekspresikan peristiwa komunikasi di masa lalu atau masa mendatang. Selain
itu, komunikasi nonverbal mempersyaratkan sebuah pemahaman mengenai konteks di
mana interaksi tersebut terjadi, sebaliknya komunikasi verbal justru
menciptakan konteks tersebut.
Perbedaan lain
tentang komunikasi verbal dan nonverbal dapat dilihat dari dimensi-dimensi yang
dimiliki keduanya. Gagasan ini dicetuskan oleh Malandro dan Barker seperti yang
dikutip dalam buku Komunikasi Antar Budaya tulisan Dra. Ilya Sunarwinadi, M.A.
a.
Struktur
>< Nonstruktur
Komunikasi
verbal sangat terstruktur dan mempunyai hukum atau aturan-aturan tata bahasa.
Dalam komunikasi nonverbal hampir tidak ada atau tidak ada sama sekali struktur
formal yang mengarahkan komunikasi. Kebanyakan komunikasi nonverbal terjadi
secara tidak disadari, tanpa urut-urutan kejadian, yang dapat diramalkan
sebelumnya. Tanpa pola yang jelas, perilaku nonverbal yang sama dapat memberi
arti yang berbeda pada saat yang berlainan.
b.
Linguistik
>< Nonlinguistik
Linguistik
adalah ilmu yang mempelajari anal usul, struktur, sejarah, variasi regional dan
ciri-ciri fonetik dari bahasa. Dengan kata lain, linguistik mempelajari
macam-macam segi bahasa verbal, yaitu suatu sistem dari lambang-lambang yang
sudah diatur pemberian maknanya. Sebaliknya. pada komunikasi nonverbal, karena
tidak adanya struktur khusus, maka sulit untuk memberi makna pada lambang.
Belum ada sistem bahasa nonverbal yang didokumentasikan, walaupun ada usaha
untuk memberikan arti khusus pada ekspresi-ekspresi wajah tertentu. Beberapa
teori mungkin akan memberikan pengecualian pada bahasa kaum tuna-rungu yang
berlaku universal, sekalipun ada juga lambang-lambangnya yang bersifat unik.
c.
Sinambung
(continuous) >< Tidak Sinambung (discontinuous)
Komunikasi
nonverbal dianggap bersifat sinambung, sementara komunikasi verbal didasarkan
pada unit-unit yang terputus-putus. Komunikasi nonverbal baru berhenti bila
orang yang terlibat di dalamnya meninggalkan suatu tempat. Tetapi selama tubuh,
wajah dan kehadiran kita masih dapat dipersepsikan oleh orang lain atau diri
kita sendiri, berarti komunikasi nonverbal dapat terjadi. Tidak sama halnya
dengan kata-kata dan simbol dalam komunikasi verbal yang mempunyai titik awal
dan akhir yang pasti.
d.
Dipelajari
><Didapat secara Ilmiah
Jarang sekali
individu yang diajarkan cara untuk berkomunikasi secara nonverbal. Biasanya is
hanya mengamati dan mengalaminya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa manusia
lahir dengan naluri-naluri dasar nonverbal. Sebaliknya komunikasi verbal adalah
sesuatu yang harus dipelajari.
e.
Pemrosesan
dalam Bagian Otak sebelah Kiri >< Pemrosesan dalam Bagian Otak sebelah
Kanan
Pendekatan
neurofisiologik melihat perbedaan dalam pemrosesan stimuli verbal dan nonverbal
pada diri manusia. Pendekatan ini menjelaskan bagaimana kebanyakan stimuli
nonverbal diproses dalam bagian otak sebelah kanan, sedangkan stimuli verbal
yang memerlukan analisis dan penalaran, diproses dalam bagian otak sebelah
kiri. Dengan adanya perbedaan ini, maka kemampuan untuk mengirim dan menerima pesan
berbeda pula.
Masih dalam buku Komunikasi Antar Budaya karya Ilya
SunarwinadiSamovar, Porter dan Jain melihat perbedaan antara komunikasi verbal
dan nonverbal dalam hal sebagai berikut.
a. Banyak perilaku nonverbal yang diatur oleh
dorongan-dorongan biologik. Sebaliknya komunikasi verbal diatur oleh
aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang dibuat oleh manusia, seperti sintaks dan
tata bahasa. Misalnya, kita bisa secara sadar memutuskan untuk berbicara,
tetapi dalam berbicara secara tidak sadar pipi menjadi memerah dan mata
berkedip terus-menerus.
b. Banyak komunikasi nonverbal serta lambang-lambangnya yang
bermakna universal. Sedangkan komunikasi verbal lebih banyak yang
bersifat spesifik bagi kebudayaan tertentu.
c. Dalam komunikasi nonverbal bisa dilakukan beberapa
tindakan sekaligus dalam suatu waktu tertentu, sementara komunikasi verbal
terikat pada urutan waktu.
d. Komunikasi nonverbal dipelajari sejak usia sangat dini.
Sedangkan
penggunaan lambang berupa kata sebagai alat komunikasi
membutuhkan masa sosialisasi sampai pada tingkat tertentu.
e. Komunikasi nonverbal lebih dapat memberi dampak emosional dibanding komunikasi verbal.
D.
Fungsi
Komunikasi Verbal dan Nonverbal
Meskipun komunikasi verbal dan nonverbal memiliki
perbedaan-perbedaan, namun keduanya dibutuhkan untuk berlangsungnya tindak
komunikasi yang efektif. Fungsi dari lambang-lambang verbal maupun nonverbal
adalah untuk memproduksi makna yang komunikatif.
Secara historis, kode nonverbal sebagai suatu multi
saluran akan mengubah pesan verbal melalui enam fungsi: pengulangan
(repetition), berlawanan (contradiction), pengganti (substitution), pengaturan
(regulation), penekanan (accentuation) dan pelengkap (complementation). Dalam
tahun 1965, Paul Ekman menjelaskan bahwa pesan nonverbal akan mengulang atau
meneguhkan pesan verbal. Misalnya dalam suatu lelang, kita mengacungkan satu
jari untuk menunjukkan jumlah tawaran yang kita minta, sementara secara verbal
kila mengatakan "satu'.
Pesan-pesan nonverbal juga berfungsi untuk
mengkontradiksikan atau menegaskan pesan verbal seperti dalam sarkasme atau
sindirian-sindiran tajam. Kadang-kadang, komunikasi nonverbal mengganti pesan
verbal. Misalnya, kita tidak perlu secara verbal menyatakan kata
"menang", namun cukup hanya mengacungkan dua jari kita membentuk
huruf `V' (victory) yang bermakna kemenangan.
Fungsi lain dari komunikasi nonverbal adalah mengatur
pesan verbal. Pesan-pesan nonverbal berfungsi untuk mengendalikan sebuah
interaksi dalam suatu cara yang sesuai dan halus, seperti misalnya anggukan
kepala selama percakapan berlangsung. Selain itu, komunikasi nonverbal juga
memberi penekanan kepada pesan verbal, seperti mengacungkan kepalan tangan. Dan
akhirnya fungsi komunikasi nonverbal adalah pelengkap pesan verbal dengan
mengubah pesan verbal, seperti tersenyum untuk menunjukkan rasa bahagia kita.
Pemikiran yang sama juga
diungkapkan oleh Samovar (Ilya Sunarwinadi, Komunikasi Antar
Budaya), bahwa dalam suatu peristiwa komunikasi, perilaku nonverbal digunakan
secara bersama-sama dengan Bahasa verbal:
a.
Perilaku nonverbal memberi aksen atau penekanan pada
pesan verbal.
Misalnya
menyatakan terima kasih dengan tersenyum.
b.
Perilaku nonverbal sebagai pengulangan dari bahasa
verbal. Misalnya menyatakan arah tempat dengan menjelaskan "Perpustakaan
Universitas Terbuka terletak di belakang gedung ini", kemudian mengulang
pesan yang sama dengan menunjuk arahnya.
c.
Tindak komunikasi nonverbal melengkapi pernyataan verbal,
misalnya mengatakan maaf pada teman karena tidak dapat meminjamkan uang; dan
agar lebih percaya, pernyataan itu ditambah lagi dengan ekspresi muka
sungguh-sungguh atau memperlihatkan saku atau dompet yang kosong.
d.
Perilaku nonverbal sebagai pengganti dari komunikasi
verbal. misalnya menyatakan rasa haru tidak dengan kata-kata, melainkan dengan
mata yang berlinang-linang.
Dalam perkembangannya sekarang ini, fungsi komunikasi
nonverbal dipandang sebagai pesan-pesan yang holistik, lebih dari pada sebagai
sebuah fungsi pemrosesan informasi yang sederhana. Fungsi-fungsi holistik
mencakup identifikasi, pembentukan dan manajemen kesan, muslihat, emosi dan
struktur percakapan. Karenanya, komunikasi nonverbal terutama berfungsi
mengendalikan (controlling), dalam arti kita berusaha supaya orang lain dapat
melakukan apa yang kita perintahkan. Hickson dan Stacks menegaskan bahwa fungsi-fungsi
holistik tersebut dapat diturunkan dalam 8 fungsi, yaitu pengendalian terhadap
percakapan, kontrol terhadap perilaku orang lain, ketertarikan atau kesenangan,
penolakan atau ketidaksenangan, peragaan informasi kognitif, peragaan informasi
afektif, penipuan diri (self-deception) dan muslihat terhadap orang lain.
Komunikasi nonverbal digunakan untuk memastikan bahwa
makna yang sebenarnya dari pesan-pesan verbal dapat dimengerti atau bahkan
tidak dapat dipahami. Keduanya, komunikasi verbal dan nonverbal, kurang dapat
beroperasi secara terpisah, satu sama lain saling membutuhkan guna mencapai
komunikasi yang efektif.
0 komentar:
Posting Komentar